Laporan bacaan kurikulum
Pendidikan berintikan interaksi antara pendidikan dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan. Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, ataupun masyarakat. Dalam lingkungan keluarga, interaksi pendidikan terjadi antara orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Interaksi ini berjalan tanpa rencana tertulis. Interaksi pendidikan antara orang tua dengan anaknya juga sering tidak disadari. Dalam kehidupan keluarga interaksi pendidikan dapat terjadi setiap saat, setiap kali orang tua bertemu, berdialog, bergaul, dan bekerja sama dengan anak-anaknya. Sedangkan pendidikan dalam lingkungan sekolah lebih bersifat formal. Guru sebagai pendidik di sekolah telah dipersiapkan secara formal dalam lembaga pendidikan guru. Guru melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dengan rencana dan persiapan yang matang. Mereka mengajar dengan tujuan yang jelas, bahan-bahan yang telah disusun secara sistematis dan rinci, dengan cara dan alat-alat yang telah dipilih dan dirancang secara cermat. Dalam lingkungan masyarakat pun terjadi berbagai bentuk interaksi pendidikan, dari yang sangat formal yang mirip dengan pendidikan sekolah dalam bentuk kursus-kursus, sampai dengan yang kurang formal seperti ceramah, serasehan, dan pergaulan kerja. Gurunya juga bervariasi, dari yang memiliki latar belakang pendidikan khusus sebagai guru, sampai dengan yang melaksanakan tugas sebagai pendidik karena pengalaman.
Konsep Kurikulum
Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Kurikulum juga sering dibedakan antara kurikulum sebagai rencana dengan kurikulum yang fungsional. Sedangkan Beauchamp lebih memberikan tekanan bahwa kurikulum adalah suatu rencana pendidikan atau pengajaran.
Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan
Ada empat teori pendidikan yang banyak dibicarakan para ahli pendidikan dan dipandang mendasari pelaksanaan pendidikan, yaitu pendidikan klasik, pendidikan pribadi, pendidikan interaksional, dan teknologi pendidikan.
1. Pendidikan Klasik
Pendidikan klasik atau classical education dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Konsep pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya, yaitu pengetahuan, ide-ide, atau nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir terdahulu. Pendidikan berfungsi memelihara, mengawetkan, dan meneruskan semua warisan budaya tersebut kepada generasi berikutnya. Ada dua model konsep pendidikan klasik, perenialisme dan esensialisme. Parenialisme maupun esensialisme mempunyai pandangan yang sama tentang masyarakat, bahwa masyarakat bersifat statis. Pendidikan lebih menekankan pada humanitas, pembentukan pribadi, dan sifat-sifat mental. Konsep filosofis, lebih banyak mewarnai pendidikan ini.
2. Pendidikan Pribadi
Pendidikan pribadi (personalized education) lebih mengutamakan peranan siswa. Konsep pendidikan ini bertolak dari anggapan dasar bahwa sejak dilahirkan, anak telah memiliki potensi-potensi, baik potensi untuk berpikir, berbuat, memecahkan masalah, maupun untuk belajar dan berkembang sendiri. Pendidikan adalah ibarat persemaian, berfungsi menciptakan lingkungan yang menunjang dan terhindar dari hama-hama. Tugas guru, seperti halnya seorang petani adalah mengusahakan tanah yang gembur, pupuk, air, udara, dan sinar matahari. Guru adalah pembimbing, pendorong (motivator), fasilitator, dan pelayan bagi siswa. Teori ini juga memiliki dua aliran, yaitu pendidikan progresif dan pendidikan romantik. Tokoh pendahulu pendidikan progresif adalah Francis Parker yang membawa aliran ini dari Eropa ke Amerika. Aliran ini menjadi lebih terkenal di Amerika berkat percobaan-percobaan yang dilakukan John Dewey dengan sekolah-sekolah laboratoriumnya. John Dewey menerapkan prinsip belajar sambil berbuat (learning by doing).
3. Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Keduanya juga mempunyai perbedaan, sebab yang diutamakan dalam teknologi pendidikan adalah pembentukan dan penguasaan kompentensi bukan pengawetan dan pemiliharaan budaya lama. Kurikulum pendidikan teknologi menekankan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis.
4. Pendidikan Interaksional
Konsep pendidikan ini bertolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupannya, manusia membutuhkan orang lain, selalu bersama, berinteraksi, dan bekerja sama. Dalam hal ini, guru berperan menciptakan situasi dialog dengan dasar saling mempercayai dan saling membantu.
Konsep Kurikulum
Konsep terpenting yang perlu mendapatkan penjelasan dalam teori kurikulum adalah konsep kurikulum. Ada tiga konsep tentang kurikulum: kurikulum sebagai subtansi, sebagai sistem, dan sebagai bidang studi. Kurikulum sebagai substansi, suatu kurikulum dipandang orang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid disekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Kurikulum sebagai suatu system, sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi kurikulum.
1. Perkembangan Teori Kurikulum
Perkembangan teori kurikulum tidak dapat dilepaskan dri sejarah perkembangannya. Perkembangan kurikulum telah dimulai pada tahun 1890 dengan tulisan Charles dan McMurry, tetapi secara definitive berawal pada hasil karya Franklin Babbit tahun 1918. Babbit sering dipandang sebagai ahli kurikulum yang pertama, ia perintis pengembangan praktik kurikulum.
2. Sumber Pengembangan Kurikulum
Dari kajian sejarah kurikulum, kita mengetahui beberapa hal yang menjadi sumber atau landasan inti penyusunan kurikulum. Pengembangan kurikulum pertama bertolak dari kehidupan dan pekerjaan orang dewasa. Karna sekolah mempersiapkan anak bagi kehidupan orang dewasa. Kurikulum, terutama isi kurikulum di ambil dari kehidupan orang dewasa. Sumber lain penyususan kurikulum adalah anak. Dalam pendidikan atau pengajaran, yang belajar adalah anak. Sosial-politik juga menjadi sumber penentuan kurikulum.
3. Desain Dan Rekayasa Kurikulum
Telah diutarakan sebelumnya bahwa ada dua subteori dari teori kurikulum, yaitu desain kurikulum dan rekayasa kurikulum. Ada dua hal yang perlu ditambahkan dalam desain kurikulum: Pertama, ketentuan-ketentuan tentang bagaimana penggunaan kurikulum, serta bagaimana mengadakan penyempurnaan-penyempurnaan berdasarkan masukan dari pengalaman; Kedua, kurikulum itu di evaluasi, baik bentuk desainnya maupun sistem pelaksanaannya.
Landasan Filosofis
Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti “cinta akan kebijakan” (love of wisdom). Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan berbuat secara bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus tahu atau berpengatahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir yaitu berpikir secara sistematis, logis dan mendalam. Pemikiran demikian dalam fisafat sering di sebut sebagai pemikiran radikal, atau berpikir sampai keakar-akarnya. Dalam tulisan ini akan dikemukakan salah satu pandangan tentang filsafat pendidikan, yaitu pandangan dari John Dewey.
1. Dasar-Dasar Filsafat Dewey
Ciri utama filsafat dewey adalah konsepsinya tentang dunia yang selalu berubah. Prinsip ini membawa konsekuensi yang jauh, bagi Dewey tidak ada yang menetap dan abadi. Ciri lain filsafat Dewey adalah anti dualistik. Pandangannya tentang dunia adalah monistik dan tidak lebih dari sebuah hipotesis.
2. Teori Pendidikan Dewey
Pendidikan menurut John Dewey yaitu pendidikan berarti perkembangan, perkembangan sejak lahir hingga menjelang kematian. Menurut Dewey perkembangan dimulai dari pertumbuhan, syarat pertumbuhan adalah adanya kebelumdewasaan (immaturity), yang berarti kemampuan untuk berkembang. Ada dua sifat dari immaturity yakni kebergantungan dan plastisitas. Kebergatungan berarti kemampuan untuk menyatakan hubungan social, dan ini akan menyebabkan individu matang dalam hubungan sosial.
Landasan Psikologis
Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antar-individu manusia, yaitu antara peserta didik dengan pendidik dan juga antara peserta didik dengan orang-orang yang lainya.
1. Psikologi Perkembangan
Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai dengan dewasa. Dalam psikologi perkembangan ada yang metode dan teori perkembangan. Metode Dalam Psikologi Perkembangan, pengetahuan tentang perkembangan individu di peroleh melalui studi yang bersifat longitudinal, cross sectional, psikoanalitik, sosiologik, ataustudi kasus. Studi longitudinal menghimpun informasi tentang perkembangan individu melalui pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan, dari saat lahir sampai dengan dewasa, seperti yang pernah dilakukan oleh Williard C. Olson. Teori Perkembangan, ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan individu yaitu pendekatan pertahapan, pendekatan diferensial, dan pendekatan ipsatif.
2. Psikologi Belajar
Psikologi belajar merupakan suatu studi tentang bagaimana individu belajar. Banyak sekali definisi tentang belajar. Secara sederhana, belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. Belajar berhubungan dengan congnitive. Istilah congnitive berasal dari bahasa Latin “cognoscre” yang berarti mengetahui (to know). Aspek ini berkenaan dengan bagaimana individu dapat memahami dirinya dan lingkungannya.
Referensi
http://adekkutamsyur.blogspot.com/2016/02..html?m=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar